Minggu, 26 Februari 2017

Kesenian Mamaos dari Kota Bandung


Cianjuran, berasal dari kesenian adalah mamaos. Yang dinamakan tembang Sunda Cianjuran sejak tahun 1930-an dan sudah dikukuhkan tahun 1962 ketika diadakan Musyawarah Tembang Sunda Sa-Pasundan di Bandung. Mamos merupakan seni vokal Sunda dengan alat musik kecapi indung, kecapi ricik, suling, dan atau rebab.
Mamos terbentuk dimasa pemerintahan bupati Cianjur RAA. Kusumaningrat sekitar pada tahun 1834-1864. Bupati kusuma ningrat dalam membuat lagu lebih sering bertempat di sebuah bangunan bernama Pancaniti. Karena itu terkenal dengan nama Kanjeng Pancaniti. Mulanya mamamos dinyanyikan oleh kaum pria. Pada perempat pertama abad ke-20 mamaos bisa dipelajari oleh wanita. Ini terbukti dengan munculnya para juru mamaos kaum wanita diantaranya Rd. Siti Sarah, Rd. Anah Ruhanah, Ibu Omong, Ibu O'oa, Ibu Resna, Dan Nyi Mas Saodah. Mamaos berasal dari berbagai seni suada Sunda, seperti pantun, beluk (mamaca),dengung, serta tembang macapat daerah Jawa, yaitu pupuh. Lagu mamaos yang diambil dari vokal seni pantun dinamakan lagu pantun tau papantunan, atau sering disebut pula lagu Pajajaran, diambil dari nama keraton Sunda pada masa lampau. Lagu yang berasal dari bahan pupuh disebut tembang, keduanya menunjukan pada peraturan rumpaka. Teknik vokal keduanya menggunakan bahan-bahan olahan vokal Sunda. Namun, pada akhirnya kedua teknik pembuatan rumpaka ini ada beberapa yang digabungkan. Bahkan Lagu-lagu papantunan pun ini banyak yang dibuat dengan berbagai pada aturan pupuh.

Pada masa penciptaannya, Cianjuran merupakan revitalisasi dari seni Pantun. Kecapi dan teknik memainkannya masih jelas dan seni Pantun, begitu pula lagunya hampir semua dari sajian seni Pantun. Rumpaka lagunya pun mengambil dari cerita Pantun Mundinglaya Dikusumah. Masa pemerintahan bupati RAA. Prawiradirejdja II kesenian mamaos menyebar ke daerah lain. Rd. Etje Madjid Natawiredja adalah diantara tokoj mamaos berperan dalam penyebaran ini. Dia sering diundang mengajarkan mamaos ke kabupaten-kabupaten di Priangan, diantaranya oleh seorang bupati Bandung RAA. Martanagara pada tahun 1893-1918 dan RAA. Wiranatakoesoemah ketika mamaos menyebar ke daerah lain dan lagu yang menggunakan pola pupuh telah banyak, maka masyarakat di luar Cianjur menyebut mamaos dengan nama tembang Sunda atau Cianjuran, karena kesenian ini khas dan berasal dari Cianjur. Maka demikian pula ketiak radio NIROM Bandung pada tahun 1930-an menyiarkan kesenian ini menyebutkan dengan tembang Cianjuran.

Istilah mamaos hanya menunjukan pada lagu yang berpolakan pupuh tembang, karena istilah mamaos ini merupakan penghalusan dari kata mamaca, yaitu seni membaca buku cerita wawacan dengan menyanyikan. Pada buku wawacan yang menggunakan aturan pupuh ini ada dilagukan dengan teknik nyanyian rancag dan teknik beluk. Lagu mamaos berlasar pelog yaitu dengung, sorog yaitu nyorog atau madenda, salero, serta mandalungan. Berdasarkan dari asal dan sifat lagunya mamaos dikelompokan dalam beberapa wanda diantaranya papantunan, jejemplangan, dedengungan, dan raracagan. Sekarang ini ditambah pula jenis kakawen dan panambih sebagai wanda tersendiri. Lagu mamaos jenis tembang banyak menggunakan pola pupuh Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula, serta ada diantaranya lag-lagu dari pupuh lainnya.

Lagu dalam wanda papantunan diantaranya Papatat, Rajamantri, mupu Kembang, Randegan, Randegan Kendor, Kaleon, Manyeuseup, Balagenyat, Putri Layar, Pengapungan, Rajah, Gelang Gading, Candrawulan, dan lain-lain. Selain itu dalam wanda jejemplangan diantaranya terdiri dari Jemplang Panganten, Jemplang Cidadap, Jemplang Leumpang, Jemplang Titi, Jemplang Pamiring. dan lain-lain. Wanda dedengungan diantaranya adalah Sinom Degung, Asmarandana Degung, Durma Degung, Dangdanggula Degung, Rumangsang Degung, Panangis Degung dan dan lain-lain. Untuk wanda raracangan di antaranya adalah Manangis, Bayubud, Sinom Polos, Kentar Cisaat, Kentar Ajun, Sinom Liwung, Asmarandana Rancag, Setra, Satria, Kulu-kulu Barat, Udan Mas, Dangdanggula Pancaniti, Garutan, Porbalinggo, Erang Barong dan dan lain-lain

Pada mulanya mamaos ini berfungsi sebagai musik hiburan alat silaturahmi diantara kaum menak. Tetapi mamaos sekarang, disamping itu masih seperti fungsi semula, juga menjadi seni hiburan yang bersifat profit oleh para senimannya seperti kesenian. Mamaos sekarang ini dipakai pada hiburan hajatan perkawinan, khitanan, dan berbagai hiburan atau acara adat.

Related Posts

Kesenian Mamaos dari Kota Bandung
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.